SEMARANG – Dalam era digital dan automasi gedung modern, keahlian merancang sistem kelistrikan yang andal menjadi kunci keamanan infrastruktur. Akbar Revi Adha, mahasiswa semester 7 Program Studi Teknik Elektro Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), membuktikan mahasiswa lokal mampu bersaing dengan menangani proyek strategis: perancangan panel distribusi supply listrik untuk relokasi ruang hydrant di Gets Premiere Semarang.
Bukan sekadar merakit komponen, Akbar bertanggung jawab penuh merancang arsitektur kelistrikan yang mengintegrasikan sistem keamanan, monitoring energi digital, dan proteksi berlapis, sebuah standar yang diterapkan di gedung-gedung bertaraf internasional.
Latar Belakang Proyek: Relokasi Ruang Hydrant
Relokasi ruang hydrant merupakan keputusan strategis manajemen gedung untuk meningkatkan efektivitas sistem proteksi kebakaran. Perpindahan lokasi ini menuntut penyesuaian jalur distribusi daya listrik, sehingga dibutuhkan panel baru yang mampu melayani kebutuhan energi di ruang hydrant baru sekaligus mempertahankan suplai ke ruang lama yang masih memerlukan penerangan.
“Tantangannya adalah merancang satu panel yang bisa mendistribusikan daya ke dua lokasi sekaligus ruang hydrant baru dan lama dengan sistem proteksi yang independen di setiap jalur,” ungkap Akbar.

Inovasi Desain: Panel dengan Monitoring Energi Digital
Yang membedakan panel rancangan Akbar adalah integrasi teknologi monitoring energi berbasis Current Transformer (CT) dan kWh meter digital, sebuah fitur yang umum di gedung pintar (smart building) untuk audit energi dan efisiensi operasional.
Otak Panel: MCCB 50A sebagai Pengaman Utama
Molded Case Circuit Breaker (MCCB) 50 Ampere menjadi “jantung” proteksi panel. Komponen ini mampu memutus arus secara otomatis dalam hitungan milidetik saat terjadi beban lebih atau korsleting, mencegah kebakaran akibat gangguan listrik.
Teknologi Monitoring: CT dan kWh Meter Digital
Tiga unit Current Transformer (CT) dipasang pada jalur fasa R-S-T, berfungsi sebagai “sensor” yang mengukur arus listrik secara real-time. Data ini dikirim ke kWh meter digital yang mencatat konsumsi energi secara akurat—penting untuk audit energi dan deteksi dini pemborosan listrik.
“Dengan sistem ini, pihak manajemen bisa monitoring berapa besar konsumsi listrik khusus untuk sistem hydrant. Kalau ada lonjakan tidak normal, bisa langsung terdeteksi,” jelas Akbar.
MCB 3 Phase 20A: Jantung Sistem Pompa Hydrant
Komponen paling krusial adalah MCB 3 fasa 20 Ampere yang khusus melayani pompa air hydrant komponen vital dalam sistem proteksi kebakaran. Pompa ini harus beroperasi tanpa gangguan, karena keterlambatan satu detik bisa berarti perbedaan antara api terkendali atau bencana besar.
“Pompa hydrant harus mendapat suplai daya yang stabil dan proteksi khusus. Makanya kami menggunakan MCB 3 phase yang bisa menangani beban motor pompa dengan aman, termasuk saat arus start yang tinggi,” tambah Akbar.
3 Unit MCB 10A: Proteksi Sistem Pendukung
Tiga MCB 10 Ampere dialokasikan untuk kebutuhan tambahan seperti penerangan darurat ruang hydrant, panel kontrol otomatis, dan sistem alarm kebakaran—semuanya krusial untuk operasional sistem proteksi.
MCB 2A untuk Monitoring dan Penerangan Lama
Dua unit MCB 2 Ampere dipasang: satu untuk menjaga kWh meter tetap aktif dan pengamanan, satunya untuk penerangan ruang hydrant lama yang masih digunakan untuk inspeksi berkala.
Visual Monitoring: Lampu Indikator Tri-Phase
Tiga lampu indikator menampilkan status keberadaan tegangan pada fasa R-S-T secara visual, memudahkan teknisi melakukan pengecekan tanpa alat ukur—sebuah fitur keselamatan kerja yang penting.
Proses Engineering yang Sistematis
Akbar menjelaskan bahwa perancangan panel dimulai dari analisis kebutuhan beban, perhitungan kapasitas arus, pemilihan komponen sesuai standar PUIL (Persyaratan Umum Instalasi Listrik), hingga penyusunan single line diagram.
“Kami hitung dulu total beban pompa, lampu, dan perangkat lainnya. Dari situ baru ditentukan rating MCCB dan MCB yang tepat tidak boleh oversize karena boros, tapi juga tidak boleh undersize karena berbahaya,” ujarnya.
Proses perakitan dilakukan dengan standar industri: pengkabelan dengan kode warna standar PUIL, cable management menggunakan cable tie dan duct, serta labeling detail pada setiap komponen untuk memudahkan maintenance.
Tahap akhir adalah commissioning: pengukuran tegangan antar fasa, simulasi beban, uji trip MCB, dan verifikasi akurasi pembacaan kWh meter digital.
Proyek ini membuktikan bahwa mahasiswa Teknik Elektro UPGRIS tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengeksekusi proyek kelistrikan kompleks dengan standar industri. Dengan mengintegrasikan teknologi monitoring energi digital dan sistem proteksi berlapis, Akbar menunjukkan bahwa talenta lokal siap berkompetisi di era Industri 4.0.
Program magang industri seperti ini menjadi jembatan strategis antara dunia pendidikan dan industri, menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki etos kerja profesional dan mindset problem solver yang dibutuhkan dunia kerja modern.